Jakarta, 6 April 2026 – Sejalan dengan program penyehatan BUMN Karya, PT ADHI KARYA (Persero) Tbk (ADHI) pada tahun buku 2025 melakukan penataan menyeluruh atas kualitas aset dan pencadangan di seluruh lini usaha. Langkah ini ditujukan agar mencerminkan kondisi bisnis faktual, aktual dan prudent yang tercermin dalam kondisi neraca Perseroan dan akan menjadi landasan yang kokoh bagi Perseroan untuk melangkah ke depan.

Sampai dengan 31 Desember 2025, ADHI mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp18,1 triliun. Berdasarkan lini bisnis perolehan kontrak baru terdiri dari 91% engineering & konstruksi, 5% manufaktur, 3% properti & hospitality, dan 1% investasi & konsesi. Berdasarkan tipe pekerjaan, 43% pekerjaan Gedung, 15% infrastruktur Sumber Daya Air, 14% Jalan & Jembatan, dan sisanya lainnya. Berdasarkan sumber pendanaan 69% pemerintah, 23% BUMN, dan sisanya swasta.

Total produksi ADHI di sepanjang tahun 2025 senilai Rp16,6 triliun yang langsung dibukukan sebagai Pendapatan Usaha Non JO sebesar Rp9,7 Triliun dan sisanya tercermin dari Laba JO sebesar Rp462 miliar. Kontribusi terbesar pendapatan usaha ADHI berasal dari proyek infrastruktur seperti proyek Jalan Tol Yogyakarta-Bawen, Jalan Tol Yogyakarta-Solo-Kulon Progo, dan proyek PUSRI III-B.

ADHI membukukan EBITDA positif sebesar Rp763,8 miliar yang menunjukkan bahwa kemampuan Perseroan menghasilkan arus kas dari kegiatan usaha operasi pada tahun berjalan. Pada laporan laba rugi, ADHI mencatatkan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp5,4 triliun, perubahan ini seluruhnya berasal dari pembukuan biaya non-operasional.

Biaya non-operasional tersebut merupakan hasil dari tiga langkah penyehatan yang dilakukan serentak. Pertama, penyesuaian nilai wajar aset Perusahaan seiring program penyehatan BUMN Karya. Penyesuaian ini berdampak dominan pada dua anak perusahaan properti, yaitu Adhi Persada Properti dan Adhi Commuter Properti. Perlambatan bisnis makro properti dan penurunan daya beli masyarakat menyebabkan koreksi Nilai Realisasi Bersih (NRV) berdasarkan appraisal KJPP, yang dicatat sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Kedua, evaluasi CKPN atas piutang Adhi Persada Gedung, anak perusahaan di bidang kontraktor gedung yang sebagian besar portofolio pelanggannya berada di sektor properti yang mengalami tekanan dan proses kepailitan. Ketiga, tindak lanjut temuan audit yang meminta Perseroan melakukan pencadangan yang cukup dan konservatif.

Total aset ADHI per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp28,8 triliun dan liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp25,5 Triliun. Hal ini disebabkan oleh penurunan liabilitas jangka pendek sejalan dengan pengelolaan kewajiban dan arus kas Perseroan. Sementara itu, ekuitas Perseroan tercatat sebesar Rp3,3 Triliun, sejalan dengan pencatatan biaya penyehatan pada periode berjalan. Rasio DER berbasis Interest Bearing Debt masih di bawah covenant, tercatat sebesar 2,41 kali.

Kekuatan Posisi dan Prospek ke Depan

Meskipun mencatatkan penyesuaian nilai, Perseroan memiliki beberapa pondasi untuk pemulihan. ADHI masih memiliki piutang atas beberapa proyek besar yakni LRT Jabodebek dan piutang atas proyek Tol Aceh-Sigli. Realisasi piutang-piutang ini diharapkan berdampak langsung pada penerimaan kas Perseroan.

ADHI juga memiliki pipeline proyek di berbagai segmen infrastruktur dan secara konsisten menempatkan fokus pada hilirisasi dan green construction. Perseroan menjadi kontraktor pelaksana proyek hilirisasi antara lain PUSRI IIIB, Pembangunan Coal Handling ICB PTBA, dan PLTMG Tobelo. Selain itu, ADHI terlibat dalam proyek green construction, seperti pengembangan pengelolaan lingkungan FPLT Kawasan Industri di Medan, yang membuka akses ke proyek-proyek infrastruktur yang mengutamakan aspek keberlanjutan.

Di tahun 2026, pertumbuhan pasar konstruksi diperkirakan didorong oleh belanja Kementerian Pekerjaan Umum dan capital expenditure anak perusahaan Danantara. Danantara sebagai pemegang saham mayoritas terus berkoordinasi dengan Perseroan dalam kerangka penyehatan BUMN Karya. Dengan pencatatan penyesuaian nilai di tahun 2025, Perseroan memasuki tahun 2026 dengan komitmen untuk peningkatan kualitas bisnis Perseroan yang menyeluruh termasuk fokus pada bisnis inti konstruksi yang mengedepankan inovasi proses bisnis, mengedepankan streamlining bisnis melalui divestasi sesuai dengan tata kelola perusahaan yang baik sejalan dengan program yang dicanangkan oleh Danantara sebagai Holding Operasional.